Daftar KK Miskin Tidak Sinkron dengan Fakta

  • 12 Desember 2017
  • Dibaca: 233 Pengunjung
Daftar KK Miskin Tidak Sinkron dengan Fakta

Terdaftar ada 16 keluarga miskin permanen, namun ternyata hanya 2 keluarga yang secara riil layak disebut miskin berdasarkan pengecekan ke lapangan.

Bupati Nyoman Suwirta dan jajarannya terjun ke Desa Menduang, Jumat kemarin, dengan membawa sejumlah data. Khusus untu keluarga miskin, tercatat ada 16 KK miskin permanen dari total 600 KK warga di Desa Menduang.

Sedangkan jumlah warga penderita cacat (disabilitas) di Desa Menduang terdaftar 18 orang. Sementara orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) alias orang gila (orgil) di Desa Menduang tercatat 3 orang. Sebaliknya, untuk buta aksara di desa ini tercatat 1 orang, sedangkan angka putus sekolah tercatat 3 orang. 

Dalam acara ‘Bedah Desa’ kemarin, Bupati Suwirta menemui satu per satu warga yang terdata itu, termasuk keluarga miskin dan penyandang disabilitas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi riil mereka. 

Nah, untuk menemui warga bersangkutan, Bupati Suwirta harus berjalan kaki mene-lurusi gang dan jalan raya selama 5 jam, sejak pagi pukul 08.00 Wita hingga siang sekitar pukul 13.00 Wita. Turut mendampingi Bupati Suwirta kemarin jajaran Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemkab Klungkung, aparat Desa Manduang, dan prajuru adat setempat. 

Setelah melihat langsung kondisi riil di lapangan, Bupati Suwirta menemukan sejumlah fakta yang berbeda alias rtidak sinkron dengan data yang dipegang aparat desa. Jumlah keluarga miskin permanen yang tercatat 16 KK, misalnya, sangat jauh dari realita.

“Kalau saya lihat kategori kemiskinannya, dari 16 KK yang terdaftar sebagai keluarga miskin permanen tersebut, sebetulnya hanya 1-2 KK saja yang masuk dalam kategori kemiskinan,” ungkap Bupati Suwirta usai Bedah Desa di Desa Menduang, Jumat kemarin.

Selain itu, kata Suwirta, setelah berbincang-bincang dengan pihak keluarga lainnya, banyak di atara keluarga miskin ini yang rumahnya terlihat bagus. Namun, mereka sudah menjada karena ditinggalkan sang suami, sehingga harus single parent berjuang membesarkan anak-anaknya. Janda yang rumahnya terlihat bagus ini kemudian masuk daftar keluarga miskin. 

“Kalau kita tidak kawal mereka dengan baik, saya yakin mereka akan benar-benar menjadi warga miskin,” ungkap Bupati Klungkung pertama asal kawasan seberang Kecamatan Nusa Penida, tepatnya dari Banjar Ceningan, Desa Lembongan ini.

Khusus untuk penyandang penyandang disabilitas berjumlah 18 orang dan penderita ODGJ berjumlah 3 orang, Bupati Suwirta meminta Perbekel Manduang, Rai Adi Susanta, untuk membuat surat keterangan. Tujuannya, agar mereka mendapatkan pelayanan BPJS. Kalau tidak segera ditangani dengan BPJS, maka uang milik keluarganya akan cepat habis untuk biaya berobat. “Hal itu harus segera kita tindak-lanjuti,” katanya.

Saat dikonfirmasi, Perbekel Manduang, Rai Adi Susanta, mengakui data kemiskinan permanan mencapai 16 KK di desanya tersebut, merupakan data yang diturunkan dari pusat. Menurut Perbekel Rai Adi, data itu datang langsung dari pusat. “Memang data itu bersumber dari bawah, tapi pas pendataan berlangsung, kami di desa tidak turut dilibatkan,” sesal Perbekel Rai Adi.

Sementara itu, program ‘Bedah Desa’ merupakan salah satu unggulan dari Program Aksi Gema Santi yang dijalankan Bupati-Wakil Bupati Nyoman Suwirta-Made Kasta di Klungkung. Program ‘Bedah Desa’ ini digelar untuk melihat dan menyerap langsung aspirasi masyarakat. 

Program ‘Bedah Desa’ ini mengungkap berbagai persoalan mulai dari bidang peme-rintahan desa, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, hingga bidang pendidikan. Program ini akan terus digulirkan, tanpa pernah berhenti. Setelah menggelar ‘Bedah Desa’ di Desa Manduang, Jumat kemarin, Bupati Suwirta langsung meluncur ke Desa Selisihan, Kecamatan Klungkung untuk melakukan program serupa. 

Sumber : nusabali.com

  • 12 Desember 2017
  • Dibaca: 233 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita